Selamat Jalan Affan Kurniawan : Dari Pesanan Makanan ke Pesan Keadilan 🥀

Affan Kurniawan, anak muda dua puluh satu tahun, malam itu hanya ingin menunaikan janji kecilnya pada perut orang lain: mengantar makanan hangat ke alamat yang menunggu. Jaket hijau di tubuhnya bukan sekadar seragam, melainkan jembatan harapan. Antara dapur dan meja, antara keringat dan rezeki.

Namun, di sudut Pejompongan yang riuh oleh suara demonstran dan dentum kendaraan taktis, nasib berkata lain. Roda raksasa Brimob, yang seharusnya melindungi rakyat, justru merenggut nyawa rakyat kecil yang bahkan tak ikut berteriak. Affan tergelincir, tubuhnya rapuh berhadapan dengan besi dingin yang tak mengenal belas kasihan.

Di jalan itu, ribuan suara sebenarnya sedang ditujukan ke gedung parlemen. Demo menolak tambahan tunjangan bagi anggota DPR yang dianggap tak peka terhadap jeritan rakyat. Di luar pagar besi, rakyat berteriak soal kesenjangan dan ketidakadilan; di dalam gedung megah, para wakil sibuk mengukur angka-angka untuk kenyamanan sendiri. Ironi itulah yang menjadi latar kematian Affan. Anak bangsa yang tak menuntut tunjangan, hanya ingin mengantar sebungkus nasi ke tangan yang lapar.

Jakarta pun terdiam. Video yang beredar membuat mata rakyat panas, dada sesak. Ribuan pengemudi ojol mengiringi jenazahnya, seakan ingin berkata: “Kau tidak sendirian, Affan. Di jalan raya yang sunyi, di lampu merah yang berkepanjangan, kami akan selalu menyebut namamu."

Di balik duka itu, ada janji dari penguasa: kasus ini akan diusut tuntas, tanpa selubung. Kapolri datang menyampaikan maaf. Ketua DPR, Presiden, hingga Wakil Ketua MPR bersuara: jangan ada lagi nyawa rakyat yang terhimpit oleh roda negara. Namun publik tahu, maaf sering kali lebih cepat meluncur dibanding keadilan yang tertatih-tatih berjalan.

Affan sudah pergi, meninggalkan ibu, keluarga, dan mimpi-mimpi sederhana yang belum sempat tumbuh. Tetapi kematiannya menjadi cermin, betapa ringkih nyawa rakyat di tengah hiruk pikuk kuasa. Dan kini, sejarah akan mengingatnya bukan sekadar sebagai driver ojol, melainkan sebagai tanda seru: bahwa negara harus berhenti menggilas rakyatnya sendiri.

Selamat Jalan Affan ke alam abadian  🤲🏻

29 Agustus 2025 

Dari Sudut Selatan Jakarta

DYA,- 

www.deniasamad.com

Related Publikasi
Kosmik 9-9-9: Antara Pesta Likuiditas The Fed dan Bayang Jurang IHSG
Pasar hari ini bukan sekadar ruang transaksi, melainkan panggung kosmik. Tanggal 9-9-9 berbaris bagai mantra…
70 Menit Parade, Rudal Baru, dan Indonesia di Tengah Pergeseran Dunia ke Timur 
Langit Beijing pagi itu retak oleh raungan jet tempur. Tank baja merayap di aspal Chang’an…
Refleksi 17 Agustus: Obor Estafet dan Laut yang Terlupa
Bayangkan tanggal 17 Agustus: langit Jakarta biru tipis, pasukan militer berbaris rapi, dan presiden berdiri…
Pendidikan Terangi Peradaban
Bayangkan sebuah kelas di pelosok negeri. Lampunya redup, kapur tulisnya patah jadi tiga, papan tulisnya…
Pidato di Senayan: Antara Rp 300 Triliun dan Peta Jalan ke Masa Depan
Jika Anda masuk ruang sidang MPR hari itu tanpa tahu agenda, Anda mungkin mengira sedang…
Rosan Roeslani Tebas Tantiem: Dari Genderang Perang Prabowo ke Pisau Hemat BUMN
Penulis:Denia Yuniarti AbdussmadCEO Ventrue Capital Baru saja telinga kita bergetar mendengar suara Presiden Prabowo di…
Scroll to Top