Penulis:
Denia Yuniarti Abdussmad
CEO Ventrue Capital
Baru saja telinga kita bergetar mendengar suara Presiden Prabowo di sidang MPR. Suara yang terdengar seperti campuran bedug Idul Fitri dan genderang perang Romawi, mengumandangkan perang melawan tambang ilegal. Ingatan publik pun kembali pada satu langkah berani yang sempat mengguncang ruang rapat BUMN: keputusan Rosan Roeslani, CEO danantara sekaligus Menteri Investasi RI, yang beberapa waktu lalu menebas tantiem para komisaris BUMN.
Tantiem itu apa? Buat yang belum pernah merasakannya dan kemungkinan besar tidak akan pernah. Tantiem adalah bonus ekstra manis yang biasa mampir ke rekening para komisaris. Nilainya? Kalau dibelikan bakso lima ribu, bisa bikin planet baru bernama Baksonia lengkap dengan sabuk asteroid bihun. Selama ini, tantiem adalah tradisi yang berjalan tenang, seperti sungai dalam hutan: jarang terlihat, tapi terus mengalir.
Hari itu, Rosan berkata: “Potong!"
Bayangkan adegannya. Ruang rapat BUMN yang biasanya tenang seperti perpustakaan mewah, mendadak seperti adegan drama Korea saat surat warisan dibatalkan. Beberapa komisaris menatap meja, ada yang memainkan pena, dan mungkin ada yang mulai menghitung ulang cicilan KPR rumah elit di Navapark—kompleks yang sempat viral gara-gara kasus artis Nikita. Tapi Rosan tak bergeming. Dengan nada yang tidak kalah mantap dari Presiden tadi siang, ia menyampaikan, “Kalau negara sedang mengencangkan ikat pinggang, masa kita longgarkan dompet?”
Dampaknya? Hitungan sederhana menunjukkan negara bisa berhemat ratusan miliar rupiah. Uang segitu kalau mau dipakai untuk beasiswa, bisa bikin ribuan anak desa masuk universitas tanpa harus menjual kebun singkong kakeknya. Kalau mau dipakai membangun jembatan, desa-desa yang selama ini tergantung pada rakit bambu bisa punya akses beton permanen.
Langkah Rosan ini seperti gema dari pidato kenegaraan Prabowo: sama-sama bicara tentang keberanian memutus mata rantai pemborosan. Bedanya, Prabowo berperang di medan tambang ilegal, Rosan di medan “tambang resmi” bernama rapat komisaris.
Optimis? Iya. Karena jika semangat ini menular ke direksi dan komisaris BUMN lain, negara bukan hanya berhemat, tapi juga memberi pesan keras: berbakti untuk negeri itu bukan slogan di baliho, tapi tindakan nyata di meja keputusan.
Pesimis? Selalu ada. Karena sejarah kita penuh dengan kebijakan bagus yang pelan-pelan dilipat, diselipkan di laci, lalu dilupakan.
Tapi setidaknya hari ini kita bisa berkata: ada dua genderang yang ditabuh bersamaan. Satu di gedung MPR, satu lagi di ruang rapat BUMN. Satunya melawan tambang emas ilegal, satunya memotong “emas legal” yang selama ini menguap ke kantong segelintir orang.
Kalau perang ini dimenangkan, kita akan melihat bukan hanya sungai kembali jernih, tapi juga kas negara yang lebih sehat. Kalau kalah? Yah… setidaknya kita pernah mendengar bunyi tebasan itu, dan membayangkan bahwa pengabdian pada negeri suatu hari bisa benar-benar jadi budaya, bukan sekadar kata indah di pidato 17 Agustus.
#berbaktiuntuknegri
#tantiembumn
#giliranrosan
15 Agustus 2026
Dr lantai tinggi gedung di Selatan Jakarta
Denia,-