Bayangkan sebuah kelas di pelosok negeri. Lampunya redup, kapur tulisnya patah jadi tiga, papan tulisnya penuh coretan “utang negara” yang tak pernah terhapus. Guru masuk dengan tas kain belel, bukan untuk mengajar matematika, tapi untuk membuktikan bahwa pendidikan masih bisa menyulut peradaban meski negara sibuk mengutak-atik APBN.
Di luar sana, para pejabat sedang berdebat: mau naikkan anggaran pendidikan atau anggaran perjalanan dinas? Ironinya, kursi rapatnya empuk sekali-seolah kursi itu disubsidi langsung oleh “UUD 1945 Pasal Kenyamanan”. Sementara di kelas tadi, anak-anak duduk di kursi kayu berderit yang jika disentuh sedikit, bunyinya seperti orkestra anggaran bocor.
Tapi begitulah pendidikan: ia tak perlu ruangan ber-AC atau proyektor canggih. Cukup ada satu guru yang percaya, maka murid-murid bisa menjadikan cahaya lilin lebih terang dari ribuan lampu gedung parlemen.
Pendidikan itu ibarat lilin di tengah pesta listrik padam nasional. Ia mungkin kecil, tapi justru dari sinar kecil itulah peradaban berdiri. Bayangkan, tanpa pendidikan, kita hanya punya generasi yang pandai menyalin template pidato, tapi gagap ketika diminta menjawab soal logika sederhana: “Kalau APBN buat sekolah dipangkas, siapa yang bodoh duluan, murid atau menteri?”
Dan inilah paradoks terbesar: negara sering berjanji “pendidikan prioritas”, tapi faktanya seperti orang diet, selalu bilang “besok mulai”, sementara hari ini tetap makan gorengan korupsi.
Namun, kita tahu, pendidikan tidak sekadar angka di RAPBN. Ia adalah drama agung: guru sebagai aktor utama, murid sebagai pemeran masa depan, dan papan tulis sebagai panggung peradaban. Skenarionya sederhana, jika pendidikan benar-benar diterangi, bangsa ini tidak hanya pintar membuat undang-undang, tapi juga bisa menegakkan keadilan, membangun teknologi, bahkan menulis satire lebih tajam daripada pidato presiden.
Jadi, kalau mau serius bicara “terangi peradaban”, bukan sekadar membagi-bagi beasiswa simbolis di depan kamera. Pendidikan harus diperlakukan seperti listrik PLN: menyala 24 jam, merata sampai ke desa terakhir. Kalau mati lampu? Itu bukan sekadar padamnya cahaya, tapi gelapnya masa depan.