Refleksi 17 Agustus: Obor Estafet dan Laut yang Terlupa

Bayangkan tanggal 17 Agustus: langit Jakarta biru tipis, pasukan militer berbaris rapi, dan presiden berdiri gagah dengan jas hitam serta peci yang seolah menjadi simbol seriusnya hari itu. Semua orang menahan napas saat bendera Merah Putih perlahan naik ke langit. Namun di balik gegap gempita itu, ada bisikan lirih dari laut timur: Ambalat. Ia seperti gadis cantik di pesta kemerdekaan, semua ingin menari dengannya, tetapi kita sendiri sering kelupaan menggandeng tangannya.

Kemerdekaan sering disebut “harga mati”. Tapi ironinya, harga mati itu kerap diperlakukan seperti promo diskon di pusat perbelanjaan: banyak yang teriak, sedikit yang benar-benar menebus. Ambalat bukan sekadar hamparan laut biru di peta; ia wajah kedaulatan yang kalau hilang, akan membuat Indonesia seperti potret keluarga besar yang tiba-tiba kehilangan satu anak, lalu pura-pura tetap tersenyum di depan kamera.

Politikus kita pun kadang lucu. Begitu isu Ambalat muncul, mereka mendadak jadi pahlawan laut dadakan. Ada yang berpose gagah di geladak kapal, ada yang melontarkan pidato berapi-api, padahal sehari-harinya sibuk menghitung kuota perjalanan dinas. Mereka lupa bahwa menjaga Ambalat bukan sekadar selfie berlatar samudra, melainkan memastikan nelayan bisa pulang dengan perahu utuh, bukan dengan kisah ditabrak kapal asing.

Kemerdekaan ibarat obor estafet indah saat berkobar di stadion, tapi bisa padam jika pelari sibuk menyalakan kembang api pribadi. Sama halnya dengan Ambalat: ia bisa padam bukan karena badai laut, melainkan karena kita terlalu sibuk berdebat siapa yang berhak memegang dayung.

Refleksi kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada karnaval dan pesta rakyat. Ia adalah janji bahwa setiap jengkal tanah, setiap hembus udara, setiap tetes laut, termasuk Ambalat akan dijaga dengan penuh kesadaran. Sebab kalau kemerdekaan hanya jadi upacara tahunan, Ambalat bisa berakhir sekadar nama nostalgia: tercetak di buku sejarah, tapi hilang dari peta bangsa.

Dan bila hari itu benar datang, jangan salahkan bangsa lain. Salahkan kita, yang lebih sibuk lomba makan kerupuk daripada menjaga laut sendiri.

Related Publikasi
Kosmik 9-9-9: Antara Pesta Likuiditas The Fed dan Bayang Jurang IHSG
Pasar hari ini bukan sekadar ruang transaksi, melainkan panggung kosmik. Tanggal 9-9-9 berbaris bagai mantra…
70 Menit Parade, Rudal Baru, dan Indonesia di Tengah Pergeseran Dunia ke Timur 
Langit Beijing pagi itu retak oleh raungan jet tempur. Tank baja merayap di aspal Chang’an…
Refleksi 17 Agustus: Obor Estafet dan Laut yang Terlupa
Bayangkan tanggal 17 Agustus: langit Jakarta biru tipis, pasukan militer berbaris rapi, dan presiden berdiri…
Pendidikan Terangi Peradaban
Bayangkan sebuah kelas di pelosok negeri. Lampunya redup, kapur tulisnya patah jadi tiga, papan tulisnya…
Pidato di Senayan: Antara Rp 300 Triliun dan Peta Jalan ke Masa Depan
Jika Anda masuk ruang sidang MPR hari itu tanpa tahu agenda, Anda mungkin mengira sedang…
Rosan Roeslani Tebas Tantiem: Dari Genderang Perang Prabowo ke Pisau Hemat BUMN
Penulis:Denia Yuniarti AbdussmadCEO Ventrue Capital Baru saja telinga kita bergetar mendengar suara Presiden Prabowo di…
Scroll to Top