Langit Beijing pagi itu retak oleh raungan jet tempur. Tank baja merayap di aspal Chang’an Avenue, ribuan pasukan berbaris dengan disiplin sempurna. Parade militer bukan sekadar ritual, ia adalah bahasa kekuasaan yang lebih keras daripada diplomasi. China sedang menulis bab baru sejarah, dan dunia dipaksa membaca tanpa bisa menutup halaman.
Di tribun kehormatan, kamera televisi dunia menangkap momen bersejarah. Xi Jinping berdiri sebagai tuan rumah, Vladimir Putin dengan wajah dingin khasnya, Kim Jong Un dengan senyum penuh teka-teki, dan di sela mereka Prabowo Subianto. Indonesia hadir. Tidak lagi di pinggir, tidak lagi sekadar undangan, tetapi berdiri sejajar dengan para raksasa dunia. Bagi rakyat Indonesia, momen itu membanggakan sekaligus simbolik. Kehadiran Prabowo di panggung itu ibarat mengibarkan Merah Putih di tengah percaturan global.

Namun parade kali ini bukan sekadar simbol. Di langit, misil Dongfeng-61 melesat seperti kilat, menghantui Pentagon yang mendadak berubah jadi ruang darurat analis. Catatan Barat terhenti di satu angka: DF-61 mampu menyentuh titik mana pun di bumi dalam 20 menit, sementara sistem pertahanan negara lain masih sibuk dalam rapat anggaran. Dan sebelum napas sempat ditarik, China menyingkap DF-5C dengan satu kalimat yang lebih tajam dari pedang: “Strike range covers the entire globe.” Paradigma pertahanan dunia ambruk hanya dalam 70 menit parade. Amerika, dengan dompet militer raksasanya, tampak kalang kabut—bahkan catatan kecil yang tersisa hanyalah laporan logistik: pesanan pizza di Washington melonjak 400 persen semalaman.
Di balik panggung, isu lain berhembus: pembicaraan mengenai pemesanan jet tempur produksi China. Nama JF-10 buatan Chengdu disebut-sebut masuk radar Indonesia. Jet itu digadang bisa berdiri sejajar dengan pesawat tempur yang dipesan dari Prancis. Sebuah langkah berani, Indonesia memainkan kartu kembar, satu kaki di Barat, satu kaki di Timur, sebagai strategi menyeimbangkan kekuatan. Show force di Beijing ini pun bukan sekadar etalase militer, tetapi juga pasar terbuka bagi kontrak pertahanan.
Sementara itu, Trump di kejauhan terdengar kesal, menuntut China mengakui “American Blood” yang tumpah di masa lalu. Ia menyindir Xi, menggertak soal Putin dan Kim, seakan ngambek karena tak diundang dalam pesta kekuasaan baru ini.
Beijing pagi itu menulis ulang peta kekuatan global. Barat panik, Timur percaya diri, dan Indonesia berdiri di antara raksasa, bukan sekadar penonton, tapi bagian dari naskah sejarah yang tengah disusun ulang. Parade Beijing bukan hanya barisan tank dan misil, tapi juga barisan pesan: siapa yang hadir, siapa yang absen, dan siapa yang diam-diam ngambek di kejauhan.